Super Flu Jadi Sorotan Dunia Kesehatan
Meningkatnya laporan kasus super flu di Amerika Serikat kembali menarik perhatian dunia kesehatan global. Istilah “super flu” ramai digunakan masyarakat untuk menggambarkan flu yang terasa jauh lebih berat dari biasanya, berlangsung lebih lama, dan menyebabkan kelelahan ekstrem hingga mengganggu aktivitas harian.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa super flu bukan istilah medis resmi. Namun demikian, lonjakan kasus influenza dengan gejala berat tetap perlu diwaspadai, terutama di tengah mobilitas masyarakat yang tinggi serta rendahnya cakupan vaksinasi di sejumlah negara.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa influenza bukan penyakit ringan yang bisa selalu diabaikan.
Apa Itu Super Flu?
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa super flu sejatinya hanyalah istilah awam.
“Super flu bukan merupakan terminologi medis. Istilah ini kerap dipakai oleh orang awam untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subclade K,” ujar Dr. Piprim.
Virus influenza A H3N2 yang mengalami mutasi ini dilaporkan lebih sulit dikenali oleh sistem imun tubuh, termasuk pada orang yang sebelumnya telah memiliki kekebalan akibat infeksi flu atau vaksinasi.
Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Andrew Pekosz, Ph.D., ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Ia menyebutkan bahwa virus flu memiliki kemampuan bermutasi dengan sangat cepat.
“Virus flu bermutasi dengan cepat, dan mutasi ini bisa memberikan keuntungan bagi virus tersebut,” jelas Pekosz.
Mutasi tertentu memungkinkan virus menghindari perlindungan vaksin, sehingga sebagian orang merasakan gejala flu yang lebih berat dibandingkan flu musiman biasa.
Mengapa Super Flu Terasa Lebih Parah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan flu kali ini terasa lebih berat, antara lain:
-
Mutasi virus H3N2 yang membuat sistem imun lebih sulit mengenali virus
-
Penurunan antibodi pada masyarakat yang jarang terpapar flu selama pandemi
-
Kecocokan vaksin yang tidak sempurna terhadap subclade tertentu
-
Mobilitas tinggi dan kepadatan aktivitas, terutama saat musim liburan
Kombinasi faktor tersebut membuat influenza lebih mudah menular dan memicu gejala yang lebih intens.
Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, gejala super flu mirip dengan influenza A musiman. Namun, intensitasnya lebih berat dan sering muncul secara mendadak. Gejala yang paling sering dilaporkan meliputi:
-
Demam tinggi dan berkepanjangan
-
Panas dingin dan menggigil hebat
-
Nyeri otot dan tubuh terasa sangat pegal
-
Sakit kepala berat
-
Kelelahan ekstrem hingga sulit beraktivitas
-
Hidung tersumbat atau pilek berat
-
Batuk kering atau berdahak
-
Nyeri dan iritasi tenggorokan
Dr. Piprim menambahkan bahwa anak-anak berisiko mengalami kelelahan luar biasa dan komplikasi serius bila flu berat tidak ditangani dengan baik.
Perlu diingat, gejala flu dapat menyerupai COVID-19 atau infeksi virus pernapasan lain. Oleh karena itu, melakukan tes menjadi langkah penting. Saat ini telah tersedia tes cepat rumahan yang dapat mendeteksi influenza A, influenza B, dan COVID-19 secara bersamaan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gejala Muncul?
Jika mengalami gejala flu berat, para ahli menekankan agar masyarakat tidak menganggapnya sebagai pilek biasa.
“Flu bukan sekadar pilek. Flu bisa sangat parah,” tegas Andrew Pekosz.
Berikut langkah-langkah yang dianjurkan:
1. Istirahat dan Terapkan PHBS
Dr. Piprim menekankan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti:
-
Istirahat yang cukup
-
Minum cairan yang cukup
-
Mengonsumsi makanan bergizi
-
Mengurangi kontak dengan orang lain
2. Gunakan Obat Pereda Gejala dengan Bijak
Paracetamol atau ibuprofen dapat membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri. Namun, masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsi paracetamol berlebihan, karena banyak obat flu sudah mengandung zat tersebut.
3. Pertimbangkan Obat Antivirus
Untuk kasus flu berat, dokter dapat meresepkan obat antivirus seperti Tamiflu, Xofluza, Relenza, atau Rapivab. Obat ini paling efektif jika diberikan sejak awal gejala, dan penggunaannya harus sesuai anjuran dokter.
4. Waspadai Tanda Bahaya
Segera cari bantuan medis jika muncul:
-
Demam tinggi yang tidak turun
-
Dehidrasi
-
Nyeri dada
-
Sesak atau kesulitan bernapas
Dalam kondisi normal, flu membaik dalam 5–7 hari. Namun, komplikasi tetap dapat terjadi, terutama pada kelompok rentan.
5. Tetap di Rumah Saat Sakit
Penderita flu disarankan tetap di rumah hingga demam hilang selama 24 jam tanpa obat dan kondisi membaik, guna mencegah penularan.
Apakah Vaksin Flu Masih Efektif?
Muncul kekhawatiran karena vaksin flu tahun ini disebut tidak sepenuhnya cocok dengan subclade K. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa vaksin tetap bermanfaat.
“Vaksin mencakup tiga jenis influenza. Dengan dua di antaranya, kecocokannya cukup baik, dan kami percaya vaksin tetap memberi perlindungan parsial,” jelas Pekosz.
CDC tetap merekomendasikan vaksin influenza untuk semua orang berusia enam bulan ke atas. Walau tidak sempurna, vaksinasi terbukti:
-
Mengurangi keparahan gejala
-
Menekan risiko komplikasi
-
Menurunkan kemungkinan rawat inap
Kesimpulan
Meningkatnya kasus super flu menjadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit sepele. Mutasi virus dapat membuat gejala lebih berat dan berdampak serius, terutama bagi anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta.
Dengan mengenali gejala sejak dini, menerapkan PHBS, menggunakan obat secara bijak, serta mengikuti anjuran medis dan vaksinasi, risiko komplikasi dapat ditekan.
Di tengah musim liburan dan mobilitas tinggi, kewaspadaan menjadi kunci untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar