Lampung Utara - LintasFaktaNews.Online
Kerusakan jalan desa kembali menjadi perhatian publik setelah keluhan warga Desa Padang Ratu, Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara, mencuat ke permukaan. Masyarakat setempat mengaku sudah puluhan tahun menggunakan akses jalan berlubang, bergelombang, dan bahkan sulit dilalui terutama pada musim penghujan. Situasi tersebut membuat kegiatan harian warga terganggu, terutama para pelajar yang setiap hari menuju sekolah.
Menurut warga, jalan Desa Padang Ratu merupakan jalur vital yang menghubungkan permukiman dengan fasilitas pendidikan seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) Padang Ratu dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang Ratu. Sejak lama, jalan tersebut menjadi akses satu-satunya bagi para siswa menuju sekolah. Namun karena kondisinya yang memprihatinkan, keselamatan pelajar kerap terancam, terlebih saat hujan turun dan jalan berubah menjadi kubangan lumpur.
Keluhan Warga Terkait Kerusakan Jalan
Toni, warga Desa Padang Ratu, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut berlangsung terlalu lama tanpa respons nyata dari pemerintah daerah. Ia menyebutkan bahwa masyarakat sudah berkali-kali mengajukan usulan perbaikan, tetapi hasilnya tidak terlihat.
“Jalan ini sudah puluhan tahun rusak. Setiap hari anak-anak sekolah lewat sini, apalagi kalau musim hujan jalannya licin dan berlubang, sangat berbahaya,” ucap Toni kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan, bukan hanya para pelajar yang merasakan dampak dari jalan rusak tersebut, tetapi juga petani, pedagang, dan warga yang membutuhkan akses cepat ke kecamatan. Toni menyebutkan bahwa ketika jalan tergenang atau dipenuhi lumpur, motor sulit melintas, bahkan beberapa warga pernah mengalami kecelakaan kecil akibat terpeleset saat melewati jalan berlubang.
Dampak Kerusakan Jalan Terhadap Pendidikan dan Ekonomi
Jalan Desa Padang Ratu memiliki fungsi penting sebagai jalur utama kegiatan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Pelajar, baik dari tingkat menengah pertama hingga menengah atas, setiap hari bergantung pada jalan tersebut. Kondisi jalan yang tidak layak menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua mengenai keselamatan anak-anak mereka.
Selain itu, kegiatan ekonomi warga juga ikut terhambat. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perdagangan hasil kebun. Ketika jalan rusak, biaya transportasi meningkat dan waktu tempuh bertambah panjang. Tidak jarang petani mengalami kesulitan mengangkut hasil pertanian ke pasar, sehingga berdampak pada nilai jual dan pendapatan ekonomi keluarga.
Kerusakan jalan juga menghambat pelayanan umum, terutama bagi masyarakat yang memerlukan akses cepat menuju pusat pemerintahan, puskesmas, maupun fasilitas umum lainnya. Kondisi ini menegaskan bahwa infrastruktur yang memadai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari kebutuhan dasar masyarakat.
Harapan Warga Terhadap Pemerintah Daerah
Meski keluhan sudah sering disuarakan, warga mengaku belum melihat tanda-tanda perbaikan signifikan. Mereka menilai bahwa pemerataan pembangunan menjadi hal krusial yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Utara. Warga berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan di daerah perkotaan, melainkan juga memperhatikan desa-desa terpencil yang infrastruktur dasarnya masih jauh tertinggal.
“Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai menunggu ada korban baru diperbaiki,” lanjut Toni.
Masyarakat meminta agar jalan tersebut masuk ke dalam skala prioritas pembangunan tahun anggaran mendatang. Menurut mereka, perbaikan jalan tidak hanya sekadar meningkatkan kenyamanan berkendara, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan ekonomi desa.
Pemerataan Pembangunan Infrastruktur Menjadi Sorotan
Masalah jalan rusak di desa-desa Lampung Utara bukan cerita baru. Berdasarkan pengalaman warga di berbagai kecamatan, beberapa ruas jalan desa tidak pernah tersentuh aspal dan hanya ditimbun seadanya. Pada musim kemarau, jalan berdebu dan berkerikil tajam; ketika hujan turun, jalur berubah menjadi genangan lumpur yang sulit dilalui.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan. Masyarakat berharap pemerintah dapat melakukan pemetaan prioritas berdasarkan urgensi, termasuk akses pendidikan, jumlah pengguna jalan, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Warga Siap Gotong Royong, tetapi Butuh Solusi Permanen
Di tengah keterbatasan, masyarakat Desa Padang Ratu terkadang melakukan perbaikan sederhana dengan menimbun batu atau pasir di titik jalan yang rusak parah. Namun upaya itu tidak mampu bertahan lama, terutama ketika hujan deras turun dan material penimbunan terbawa arus.
Warga menyadari bahwa pembangunan jalan memerlukan biaya besar, namun mereka menilai pemerintah setidaknya harus memulai langkah awal melalui program pembangunan bertahap, seperti pengerasan jalan atau peningkatan drainase untuk mengurangi kerusakan pada musim penghujan.
Ajakan Pemerintah untuk Mendengar Suara Desa
Masyarakat berharap suara mereka dapat didengar oleh instansi terkait, mulai dari pemerintah desa hingga kabupaten. Keluhan warga Desa Padang Ratu menjadi representasi banyak desa lain di Lampung Utara yang menghadapi persoalan serupa.
Pemerintah diharapkan dapat merespons melalui survei lapangan, memasukkan perbaikan jalan dalam program kerja, dan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap pembangunan agar hasilnya tepat sasaran serta berkelanjutan.
Penutup
Kerusakan jalan Desa Padang Ratu menjadi bukti nyata bahwa kebutuhan infrastruktur dasar di daerah pedesaan masih banyak yang belum terpenuhi. Jalan merupakan akses penting bagi pelajar, petani, pedagang, dan seluruh lapisan masyarakat. Tanpa perbaikan, aktivitas ekonomi dan pendidikan warga akan terus terhambat.
Dengan suara warga yang kini semakin terdengar, masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Lampung Utara dapat memberi perhatian serius dan segera mengambil langkah konkrit untuk memperbaiki jalan desa tersebut. Aspirasi warga adalah agar pembangunan tetap merata dan tidak meninggalkan desa dalam kondisi terbelakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar