Lintas Fakta News – portal berita viral, nasional, teknologi, dan review aplikasi penghasil uang 2026 yang terbaru dan terpercaya.

Goldman Sachs Turunkan Rating Saham Indonesia Usai Sinyal MSCI, Risiko Arus Keluar Dana Meningkat

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia kembali menguat setelah Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight. Keputusan tersebut tertuang dalam laporan Asian Equity Perspectives: Portfolio Strategy Research yang dirilis pada 29 Januari 2026. Langkah Goldman ini muncul hanya berselang dua hari setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyampaikan hasil konsultasi terkait metodologi free float dan investabilitas saham Indonesia.

Dalam laporan tersebut, Goldman Sachs secara eksplisit mengaitkan penurunan rekomendasi terhadap Indonesia dengan potensi perubahan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets. Bahkan, Goldman tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat diturunkan statusnya menjadi frontier market apabila perbaikan transparansi free float tidak tercapai hingga Mei 2026.

“Risiko penurunan bobot MSCI menjadi faktor utama di balik penurunan rekomendasi Indonesia, mengingat implikasinya terhadap arus dana pasif dan sentimen investor global,” tulis Goldman dalam laporannya.




IHSG Tertekan dan Trading Halt Berulang

Sentimen negatif tersebut sudah tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, 28 Januari 2026, IHSG anjlok hingga 8 persen dalam satu hari, memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan pada pukul 13.43 hingga 14.13 WIB di level 8.261.

Tekanan berlanjut keesokan harinya. Pada Kamis, 29 Januari 2026, trading halt kembali diberlakukan hanya sekitar 30 menit setelah pembukaan sesi pertama, tepatnya pukul 09.26 hingga 09.56 WIB, ketika IHSG jatuh ke level 7.654. Kondisi ini mencerminkan kepanikan investor yang masih tinggi di tengah ketidakpastian arah kebijakan regulator dan risiko keluarnya dana asing.

Goldman menilai, meskipun pasar sudah mengalami koreksi tajam, tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Investor pasif yang mengikuti indeks global berpotensi melakukan rebalancing portofolio jika MSCI benar-benar menurunkan bobot saham Indonesia.

Risiko Penyusutan Kapitalisasi Pasar

Dalam simulasi Goldman Sachs, penerapan metodologi baru MSCI dapat memangkas kapitalisasi pasar free float Indonesia secara signifikan. Untuk indeks standar MSCI, penyusutan diperkirakan mencapai sekitar USD32 miliar, sementara untuk segmen small cap sekitar USD10 miliar. Secara persentase, penurunan tersebut setara dengan sekitar 27 persen dari total kapitalisasi pasar yang saat ini diperhitungkan.

Dampaknya terhadap arus dana juga tidak kecil. Goldman memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dapat mencapai USD2,2 miliar dalam skenario dasar. Namun, dalam skenario terburuk—apabila Indonesia benar-benar diturunkan menjadi frontier market—arus keluar bisa membengkak hingga USD5 miliar sampai USD7,8 miliar.

Angka tersebut menjadi perhatian serius, mengingat pasar saham Indonesia selama ini sangat bergantung pada aliran dana asing, terutama dari investor institusi global yang mengikuti indeks MSCI sebagai acuan utama.

Respons OJK: Fokus Perbaikan Free Float

Menanggapi situasi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memberikan pernyataan tegas terkait keputusan Goldman Sachs. Namun, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menekankan bahwa isu utama yang sedang dibenahi regulator adalah penguatan pengaturan free float agar sesuai dengan standar internasional.

“Sebenarnya isu mendasarnya adalah pengaturan untuk meningkatkan batasan free float agar sesuai standar internasional, sehingga saham benar-benar likuid dan dapat dimiliki investor publik,” ujar Mahendra di Gedung BEI Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Mahendra menjelaskan bahwa selama ini terdapat perbedaan interpretasi dalam pencatatan free float, khususnya terkait saham yang dimiliki sebelum penawaran umum perdana (pra-IPO). Dalam praktik sebelumnya, saham-saham tersebut masih bisa dicatat sebagai free float sepanjang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali. Ke depan, definisi free float akan diperjelas agar benar-benar mencerminkan saham yang bebas diperdagangkan di pasar.

Menurut Mahendra, peningkatan batas minimum free float bertujuan memperbesar likuiditas pasar sehingga pergerakan keluar-masuk investor tidak langsung menimbulkan volatilitas ekstrem pada harga saham. Dengan struktur kepemilikan yang lebih tersebar, potensi manipulasi harga dan pergerakan tidak wajar dapat ditekan.

Reformasi Pasar Modal dan Aturan Baru



Sejalan dengan itu, OJK, BEI, dan lembaga self-regulatory organization (SRO) lainnya telah menyiapkan reformasi besar-besaran di pasar modal. Salah satu kebijakan utama adalah menaikkan batas minimum free float dari sebelumnya 7,5 persen menjadi 15 persen, yang akan mulai berlaku pada Februari 2026, baik untuk perusahaan yang baru melantai maupun emiten yang sudah tercatat.

Regulator juga berkomitmen membuka data kepemilikan investor di bawah 5 persen agar struktur kepemilikan menjadi lebih transparan. Selain itu, percepatan demutualisasi BEI ditargetkan rampung pada kuartal I 2026 sebagai bagian dari upaya modernisasi tata kelola bursa.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia. Namun, dalam jangka pendek, proses penyesuaian tersebut justru berpotensi menimbulkan tekanan tambahan, terutama bagi emiten dengan kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi.

Perbandingan dengan Malaysia

Menariknya, di saat Goldman Sachs menurunkan rekomendasi Indonesia, mereka justru menaikkan rekomendasi Malaysia menjadi market weight. Goldman menilai kondisi makro Malaysia relatif lebih solid, ditopang oleh arus investasi besar di sektor pusat data dan tema kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Selain itu, posisi investor global terhadap saham Malaysia masih tergolong underweight, sehingga terdapat ruang bagi peningkatan alokasi dana. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu tujuan utama investasi asing di kawasan Asia Tenggara.

Perbedaan rekomendasi ini semakin menegaskan bahwa persaingan antar pasar modal regional kini tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas tata kelola, transparansi, dan kesesuaian dengan standar global.

Pengunduran Diri Dirut BEI Tambah Tekanan

Di tengah gejolak tersebut, pasar kembali dikejutkan oleh kabar pengunduran diri Direktur Utama BEI, Iman Rachman, pada Jumat, 30 Januari 2026. Iman secara mendadak menyatakan mundur dari jabatannya, dengan alasan ingin memberikan ruang bagi proses stabilisasi pasar di tengah situasi yang penuh tekanan.

Meski tidak secara eksplisit mengaitkan keputusannya dengan krisis yang terjadi, pengunduran diri ini menambah ketidakpastian di kalangan pelaku pasar. Investor menilai, transisi kepemimpinan di tubuh bursa pada saat volatilitas tinggi berpotensi memperpanjang fase ketidakstabilan.

Prospek Jangka Menengah

Dalam jangka menengah, banyak analis menilai bahwa langkah-langkah reformasi yang diambil regulator justru akan berdampak positif bagi pasar modal Indonesia. Standarisasi free float, transparansi kepemilikan, dan demutualisasi BEI dinilai dapat meningkatkan kualitas pasar dan menarik kembali minat investor global.

Namun, dalam jangka pendek, risiko tetap besar. Proses penyesuaian menuju standar MSCI berpotensi memicu arus keluar dana, terutama dari investor pasif. Hal ini dapat menekan IHSG lebih dalam sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru.

Goldman Sachs sendiri menutup laporannya dengan catatan bahwa Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat, namun risiko struktural di pasar modal perlu segera ditangani agar tidak menggerus daya saing regional.

Dengan kata lain, masa depan pasar saham Indonesia kini sangat bergantung pada seberapa cepat dan efektif regulator mampu merealisasikan reformasi. Jika perbaikan berjalan sesuai rencana, tekanan saat ini bisa menjadi fase transisi menuju pasar yang lebih sehat dan kredibel di mata investor global. Namun, jika gagal, ancaman penurunan status di MSCI bukan hanya akan berdampak pada arus dana, tetapi juga pada reputasi pasar modal Indonesia di kancah internasional.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


đŸ“ș TV One Live Streaming

CARI BERITA DISINI

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Recent Posts

PASANG IKLAN HUBUNGI WA

📱 PASANG IKLAN DISINI

  • Banner / Teks Iklan
  • Ukuran Flexible
  • Harga Terjangkau

LADANG CUAN